Thursday, October 24, 2013

Oni


mitologi oni

  Oni adalah sejenis Yokai atau hantu dari dongeng Jepang yang biasanya di artikan sebagai iblis Ogre atau Troll. Oni adalah karakter populer dalam seni tradisional Jepang dalam pertunjukan maupun literatur. Penggambaran mengenai Oni sangat beragam namun biasanya di gambarkan dengan raksasa besar buruk rupa dengan kuku-kuku yang tajam, rambut yang lebat dan dua buah tanduk yang tumbuh di atas kepalanya. Kebanyakan bagian tubuhnya mirip dengan manusia namun kadang mereka menampakan diri dengan ciri yang tidak biasa seperti jumlah mata yang ganjil atau jumlah jari kaki dan tangan yang lebih banyak. Warna kulit mereka juga kadang di sebutkan beragam, namun merah dan birulah yang biasa di identikan dengan warna kulit mereka.

  Oni biasanya di gambarkan memakai cawat dari kulit harimau dan membawa gada dari besi yang bernama Kanabo. Penggambaran ini merujuk pada sebuah kalimat oni-ni-kanabo ( oni dengan gada besi ) yang maksudnya tidak ada yang dapat menaklukanya. Kalimat tersebut juga dapat di artikan "kekuatan di atas kekuatan" atau satu-satunya kualitas alam yang di tingkatkan dengan kegunaan alat yang sama 

  Kata Oni terkadang diduga berasal dari kata on'yomi yang berarti tersembunyi atau di sembunyikan. Sebagai mana Oni adalah ruh yang tidak dapat terlihat atau dewa yang menyebabkan penyakit, bencana dan hal-hal lain yang menyenangkan. Mahkluk spriritual ini juga dapat berubah menjadi berbagai rupa dan bentuk untuk mengecoh ( dan seringkali untuk memakan ) manusia. Dalam bahasa China Oni disebut juga Gui atau Gwai yang berarti hantu di ambil dari mahkluk yang tidak memiliki rupa. Oni yang tidak dapat terlihat akhirnya diberikan bentuk oleh para sejarawan dengan rupa seperti Ogre, yang berbeda dengan mahluk-mahluk dari ajaran Buddha. Seperti dalam mitologi India dengan adanya Rakshasa dan Yaksha, hantu kelaparan yang bernama Gaki dan Enma-O yang menghukum para pendosa di Jigoku ( neraka ). namun Oni juga berbagi banyak kesamaan dengan jin dari Arab.

  Sumber lain menyebutkan pencitraan Oni merupakan konsep yang di ambil dari China dan Onmyodo. Di ceritakan bagian timur laut di ibaratkan dengan Kimon ( gerbang iblis ) dan di sebutkan jika timur laut adalah arah sial untuk melakukan perjalanan karena arah tersebut sering di lalui ruh-ruh jahat. berdasarkan tugas dari ke dua belas binatang Zodiak yang menunjukan arah-arah utama arah kimon di jaga oleh Ushitora atau lembu harimau. Dalam bagian ini Oni di gambarkan secara visual bertanduk seekor sapi, bertaring dan cakar seperti kucing dan ber cawat kulit harimau.

  Beberapa desa di Jepang merayakan upacara ritual yang di tujukan untuk mengusir Oni, khususnya saat awal musim semi. Selama festival Setsubun, orang-orang melemparkan kacang kedelai keluar rumah dan berteriak " oni wa soto ! fuku wa uchi ! " yang berarti " pergilah Oni ! kebahagian datanglah ! ". selain itu patung kera juga di anggap dapt melindungi dari Oni karena bahasa yang di pakai untuk kera, Saru terdengar sama dengan bahasa lain yang berati pergi.

  Seiring waktu bertambah, sifat jahat Oni semakin berkurang dan terkadang berfungsi menjadi pelindung. seseorang yang memakai kostum Oni sering kali menjadi pemimpin parade di Jepang untuk melawan semua kesialan. Sebagai contoh lainya, bangunan-bangunan di jepang terkadang mencantumkan wajah Oni di atap atau genting yang di sebut Onigawara, yang di percaya dapat melawan semua hal yang tidak baik dan memiliki fungsi seperti Gargoyle dalam tradisi barat. Oni juga terdapat dalam dongeng-dongeng anak seperti Momotaro ( anak persik ), dan buku the funny little woman.

  Banyak idiom dan pepatah jepang menyebutkan Oni di dalamnya. sebagai contoh oya ni ninu ko wa oni no ko, yang berarti seorang anak yang tidak mirip dengan orangtuanya berarti anak dari Oni, namun arti dari istilah tersebut merujuk pada fakta jika semua anak secara alamiah mirip dengan orang tua mereka dan dalam sedikit kasus jika seorang anak tidak mirip dengan orang tuanya mungkin karena anak tersebut anak dari orang tua biologisnya dan bukan anak dari orang tua yang membesarkanya. tergantung pada konteks tersebut di gunakan, ada juga konotasi lain seperti anak yang tidak bersikap seperti orang tuanya adalah sebenarnya bukanlah anak manusia, dan di gunakan oleh orang tua untuk memarahi anaknya yang berprilaku tidak benar. bragam ekpresi yang mencantumkan Oni di dalamnya termasuk oya ni ninu ko wa onigo, oya ni ninu ko wa onikko yang di kenal dalam permainan jepang yang bernama kakure oni atau kaurenbo yang berarti memburu iblis. permainan ini sama dengan permainan petak umpet atau hide and seek yang di mainkan dalam tradisi barat.

Dengarkan Dengan Audio

Monday, October 21, 2013

Brahmastra


brahmastra

 Brahmastra kadang-kadang di kenal juga dengan Brahma Astra ( Astra brarti 'senjata' ) seperti yang di jelaskan dalam beberapa Purana, Brahmastra di anggap sebagai senjata mematikan. Dikatakan bahwa ketika serangan senjata Brahmastra selesai, tidak akan ada serangan balasan atau pertahanan yang bisa menghentikanya, kecuali dengan Brahmadanda, tongkat yang juga di ciptakan oleh Brahma.

  Brahmastra tidak pernah luput dari sasaran dan harus digunakan dengan maksud yang sangat spesifik melawan musuh individu atau tentara, sebagai target akan menghadapi pemusnahan lengkap. Hal ini diyakini diperoleh dengan bermeditasi kepada Dewa Brahma, hanya dapat di gunakan sekali seumur hidup. Pengguna haruslah mempunyai konsentrasi mental yang kuat.

  Menurut tulisan-tulisan Sansekerta kuno, Brahmastra di panggil oleh doa yang diberikan kepada pengguna ketika diberikan senjata ini. Melalui doa ini, pengguna dapat memanggil senjata dan menggunakanya melalui media terhadap lawanya. Karena Brahma di anggap sebagai pencipta dalam sanatana Dharma, diyakini oleh umat Hindu bahwa Brahmastra diciptakan olehnya untuk tujuan hidup menegakan Dharma dan Satya, untuk di gunakan oleh siapa saja yag ingin menghancurkan musuh yang juga akan menjadi bagian dari ( Brahma ).

  Targetnya, bila terkena Brahmastra, akan benar-benar hancur. Brahma telah menciptakan senjata yang lebih kuat daripada Brahmastra, yang di sebut Brahmashira. brahmashira tersebut tidak pernah digunakan dalam perang, karena memiliki kekuatan empat kali lebih kuat dari Brahmastra, yaitu daya empat persegi, seperti namanya, karena Brahma memiliki empat kepala, hanya Arjuna dan Aswatama yang memiliki pengetahuan untuk memanggil Brahmashira tersebut.

  Senjata itu juga diyakini menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah. Tanah yang dimana senjata itu digunakan akan menjadi tandus dan semua kehidupan di dalam dan sekitar daerah tersebut tidak ada. baik perempuan dan laki-laki menjadi tidak subur. Ada juga penurunan cerah hujan dan mengalami keretakan tanah, seperti saat kekeringan. Ada berbagai deskripsi dari senjata yang di ciptakan oleh dewa-dewa Hindu seperti Agneyastra, Brahmastra, Garudastra, Kaumodaki, Narayanastra, Pashupatastra, Shiva Dhanush, Sudarshana Chakra, Trishul, Vaishnavastra, Varunastra, dan Vayavastra, senjata pribadi dari para dewa Trishul, Chakram dan Brahmastra lah yang paling kuat.

  Ada banyak contoh dalam bahasa Sansekerta suci dimana Brahmastra digunakan dan penggunanya terancam, termasuk :

  Vishvamitra menggunakanya melawan Vasishta, tapi Brahmastra ditelan Brahmadanda. Brahma mengambil kembali Brahmastra.

  Dalam Ramayana, Brahmastra digunakan oleh Sri Rama bebrapa kali : sekali terhadap Taranisem ( putra Rahwana dan juga saudara dari Bivishan ), dua kali melawan Kumnakarna ke tangan kananya dan kepala selama pertempuran mereka di Lanka. Lakshmana ( adik Sri Rama ) menggunakan Brahmastra untuk melawan Atikaay ( saudara Rahwana ). Juga, Indrajit menggunakan Brahmastra untuk melawan Hanuman ketika ia menghancurkan Ashok Vatika setelah bertemu Sita.  Lakshmana juga mencoba untuk menggunakannya dengan Indrajit dalam pertempuran yang sama, namun Rama menghentikan penggunaan senjata tersebut dan mengatakan " menggunakan Brahmastra tidak di benarkan, hal itu tidak akan bermanfaat bagi umat manusia ".

  hal ini juga di sebutkan dalam Veda bahwa Brahmastra digunakan oleh Sri Rama untuk membuat jalan keluar dari laut sehingga tentara kera dapat berbaris menuju Lanka, namun pada saat yang sama, Varuna muncul dan mengatakan kepada Rama, tentang kerusakan yang akan di akibatkan oleh senjata, dan di arahkan ke Poorv Disha - Arah Timur oleh Rama yang jatuh di tempat Rajstan yang modern menyebabkan tempat itu menjadi gurun, juga Indrajit menggunakan Brahmastra saat pertempuran terakhir dia dengan Lakshmana, namun senjata mematikan itu kembali membuat kerusakan.

  Sebelum perang besar Mahabharata, Karna berencana untuk menggunakan Brahmastra untuk melawan Arjuna, tetapi tidak melakukanya atas perintah Kunti.

  Konfrontasi Arjuna dan Aswatama di Mahabharata, Arjuna di tarik senjatanya seperti yang di perintahkan, tapi Aswatama malah melakukanya, malah menyerang cucu Arjuna yang belum lahir, Parikesit, yang kemudian diselamtakan oleh Khrisna.  

Dengarkan Dengan Audio

Sunday, October 20, 2013

Talaria ( Sandal Bersayap )



mitologi talaria


 Talaria di ambil dari bahasa latin yang berarti Sandal Bersayap atau di ambil dari kata jamak nya Talaris " pergelangan kaki ", sebuah simbol yunani utusan dewa Hermes ( mercury atau merkuri ). sandal tersebut dikatakan dibuat oleh dewa Hephaestus dari emas yang kekal atau abadi dan sandal tersebut terbang cepat bagaikan dewa atau burung apapun. Hermes menggunakan sandal bersayap di karenakan adalah dia sebagai dewa utusan dan sandal bersayap menunjukan bahwa ia memiliki kaki yang cepat untuk meyampaikan pesan.

 Talaria di sebutkan dalam Homer, yang menggambarkan Talaria sebagai "emas abadi" namun tidak menyebutkan Talaria bersayap, Talaria disebutkan pertama kali dalam perisai Heracles yang berbicara tentang Yunani kuno  " Sandal Bersayap " , kemudian penulis mengulangi karakteristik ini, misalnya dalam nyanyian Orphic ( untuk Hermes ).


 Dalam kisah Perseus, dia memakai Talaria untuk perlengkapanya membunuh medusa. Menurut Aeschylus, Hermes memberikan Talaria langsung kepada Perseus, dalam versi yang lain menyebutkan bahwa Perseus harus mengambil Talaria sendiri dari Graeae bersama dengan Helm Kegelapan dan Kibisis ( karung ) namun, Perseus melihat lain karena hermes tidak memiliki sandal sendiri, atau Hades pun demikian tidak mempunyai helm sendiri.

Dengarkan Dengan Audio