Showing posts with label mitologi asia. Show all posts
Showing posts with label mitologi asia. Show all posts

Thursday, October 24, 2013

Oni


mitologi oni

  Oni adalah sejenis Yokai atau hantu dari dongeng Jepang yang biasanya di artikan sebagai iblis Ogre atau Troll. Oni adalah karakter populer dalam seni tradisional Jepang dalam pertunjukan maupun literatur. Penggambaran mengenai Oni sangat beragam namun biasanya di gambarkan dengan raksasa besar buruk rupa dengan kuku-kuku yang tajam, rambut yang lebat dan dua buah tanduk yang tumbuh di atas kepalanya. Kebanyakan bagian tubuhnya mirip dengan manusia namun kadang mereka menampakan diri dengan ciri yang tidak biasa seperti jumlah mata yang ganjil atau jumlah jari kaki dan tangan yang lebih banyak. Warna kulit mereka juga kadang di sebutkan beragam, namun merah dan birulah yang biasa di identikan dengan warna kulit mereka.

  Oni biasanya di gambarkan memakai cawat dari kulit harimau dan membawa gada dari besi yang bernama Kanabo. Penggambaran ini merujuk pada sebuah kalimat oni-ni-kanabo ( oni dengan gada besi ) yang maksudnya tidak ada yang dapat menaklukanya. Kalimat tersebut juga dapat di artikan "kekuatan di atas kekuatan" atau satu-satunya kualitas alam yang di tingkatkan dengan kegunaan alat yang sama 

  Kata Oni terkadang diduga berasal dari kata on'yomi yang berarti tersembunyi atau di sembunyikan. Sebagai mana Oni adalah ruh yang tidak dapat terlihat atau dewa yang menyebabkan penyakit, bencana dan hal-hal lain yang menyenangkan. Mahkluk spriritual ini juga dapat berubah menjadi berbagai rupa dan bentuk untuk mengecoh ( dan seringkali untuk memakan ) manusia. Dalam bahasa China Oni disebut juga Gui atau Gwai yang berarti hantu di ambil dari mahkluk yang tidak memiliki rupa. Oni yang tidak dapat terlihat akhirnya diberikan bentuk oleh para sejarawan dengan rupa seperti Ogre, yang berbeda dengan mahluk-mahluk dari ajaran Buddha. Seperti dalam mitologi India dengan adanya Rakshasa dan Yaksha, hantu kelaparan yang bernama Gaki dan Enma-O yang menghukum para pendosa di Jigoku ( neraka ). namun Oni juga berbagi banyak kesamaan dengan jin dari Arab.

  Sumber lain menyebutkan pencitraan Oni merupakan konsep yang di ambil dari China dan Onmyodo. Di ceritakan bagian timur laut di ibaratkan dengan Kimon ( gerbang iblis ) dan di sebutkan jika timur laut adalah arah sial untuk melakukan perjalanan karena arah tersebut sering di lalui ruh-ruh jahat. berdasarkan tugas dari ke dua belas binatang Zodiak yang menunjukan arah-arah utama arah kimon di jaga oleh Ushitora atau lembu harimau. Dalam bagian ini Oni di gambarkan secara visual bertanduk seekor sapi, bertaring dan cakar seperti kucing dan ber cawat kulit harimau.

  Beberapa desa di Jepang merayakan upacara ritual yang di tujukan untuk mengusir Oni, khususnya saat awal musim semi. Selama festival Setsubun, orang-orang melemparkan kacang kedelai keluar rumah dan berteriak " oni wa soto ! fuku wa uchi ! " yang berarti " pergilah Oni ! kebahagian datanglah ! ". selain itu patung kera juga di anggap dapt melindungi dari Oni karena bahasa yang di pakai untuk kera, Saru terdengar sama dengan bahasa lain yang berati pergi.

  Seiring waktu bertambah, sifat jahat Oni semakin berkurang dan terkadang berfungsi menjadi pelindung. seseorang yang memakai kostum Oni sering kali menjadi pemimpin parade di Jepang untuk melawan semua kesialan. Sebagai contoh lainya, bangunan-bangunan di jepang terkadang mencantumkan wajah Oni di atap atau genting yang di sebut Onigawara, yang di percaya dapat melawan semua hal yang tidak baik dan memiliki fungsi seperti Gargoyle dalam tradisi barat. Oni juga terdapat dalam dongeng-dongeng anak seperti Momotaro ( anak persik ), dan buku the funny little woman.

  Banyak idiom dan pepatah jepang menyebutkan Oni di dalamnya. sebagai contoh oya ni ninu ko wa oni no ko, yang berarti seorang anak yang tidak mirip dengan orangtuanya berarti anak dari Oni, namun arti dari istilah tersebut merujuk pada fakta jika semua anak secara alamiah mirip dengan orang tua mereka dan dalam sedikit kasus jika seorang anak tidak mirip dengan orang tuanya mungkin karena anak tersebut anak dari orang tua biologisnya dan bukan anak dari orang tua yang membesarkanya. tergantung pada konteks tersebut di gunakan, ada juga konotasi lain seperti anak yang tidak bersikap seperti orang tuanya adalah sebenarnya bukanlah anak manusia, dan di gunakan oleh orang tua untuk memarahi anaknya yang berprilaku tidak benar. bragam ekpresi yang mencantumkan Oni di dalamnya termasuk oya ni ninu ko wa onigo, oya ni ninu ko wa onikko yang di kenal dalam permainan jepang yang bernama kakure oni atau kaurenbo yang berarti memburu iblis. permainan ini sama dengan permainan petak umpet atau hide and seek yang di mainkan dalam tradisi barat.

Dengarkan Dengan Audio

Saturday, October 19, 2013

Strange Tales From a Chinese Studio


strange-stories-from-a-chiese-studio




  Berikut ini adalah daftar makhluk supernatural China yang daimbil dari dongeng-dongeng kebudayaan tradisional yang terangkum dalam buku Strange Tales from a Chinese Studio karya Pu Songling yang dipublis pada tahun 1740. Daftar ini hanya mencakup makhluk-makhluk supernatural yang jahat, seperti hantu, iblis, dan makhluk-makhluk lain yang lebih rendah dari dewa. Hantu-hantu yang terdapat pada daftar ini juga memiliki karakteristik yang unik dan berbeda. Mereka dikelompokkan dalam teks-teks yang terdapat dalam ajaran Buddha.

Ba Jiao Gui


ba jiao gui

  Ba Jiao Gui yang berarti " Hantu Pohon Pisang " adalah hantu perempuan yang tinggal pada sebuah pohon pisang dan muncul pada malam hari sambil menjerit dan kadang dalam kemunculannya disebutkan sambil membawa atau menggendong bayi. Dalam beberapa dongeng Thailand, Malaysia dan Singapura, saat kemunculannya, orang-orang rakus dal tamak akan datang dan meminta nomor undian atau lotre dari si hantu dengan harapan dapat menang. Orang-orang China biasanya mengikatkan sebuah benang merah mengelilingi batang pohon pisang dan menusukkan jarum yang tajam di dalamnya lalu mengikatkan ujung benang lainnya ke tempat tidurnya. Saat malam, hantu tersebut akan muncul dan mengemis kepada orang yang mengikatnya tadi untuk melepaskannya dan sebagai gantinya hantu tersebut akan memberikan nomor yang psti dimenangkan dalam undian atau lotre. Jika orang tersebut tidak memenuhi janjinya untuk melepaskan hantu tersebut, maka setelah orang itu menang lotre, dia akan segera mati dengan cara yang mengenaskan. Hantu ini seringkali disebutkan mirip dengan hantu Pontianak dalam dongeng Malay.

Di Fu Ling
di fu ling

  Di Fu Ling yang berarti " Terikat di Bumi " merujuk pada hantu-hantu yang terikat pada beberapa lokasi di bumi, seperti tempat-tempat pemakaman dan tempat-tempat yang sangat mereka sukai semasa hidupnya.

Diao Si Gui
diao si gui

  Diao Si Gui yang berarti " Hantu yang Digantung " adalah hantu-hantu dari orang yang mati dengan cara digantung dengan berbagai alasan. Sebagai contoh, akibat eksekusi, bunuh diri, kecelakaan dan lain sebagainya. Mereka biasanya digambarkan dengan lidah yang sangat panjang menjulur keluar dari mulutnya.

E Gui
e gui

  E Gui yang berarti " Hantu yang Lapar "  merujuk pada hantu-hantu yang muncul selama Festival Hantu. Mereka dipercaya sebagai ruh orang-orang yang berdosa dan serakah semasa hidupnya dan dihukum dengan kelaparan setelah kematiannya. E Gui memiliki mulut yang sangat kecil dan sangat sulit untuk menelan makanan. Seluruh kulit tubuhnya digambarkan berwarna hijau atau abu-abu dan perut yang besar dan cenderung buncit. Hantu-hantu ini tersiksa dengan rasa lapar yang tidak akan pernah terpuaskan. Mereka berburu ke jalanan dan dapur-dapur, mencari makanan busuk. Hantu-hantu ini dibagi menjadi dua, hantu yang dapat mengeluarkan api dari mulutnya dan hantu tersiksa karena anoreksia.

Gui Po
gui po

  Gui Po yang berarti " Hantu Perempuan Tua " yang baik dan bersahabat. Mereka mungkin adalah ruh dari perempuan tua yang semasa hidupnya bekerja sebagai pembantu uantuk keluarga kaya. Mereka kembali untuk membantu tuan mereka dengan menjaga dan mengerjakan pekerjaan rumah atau merawat anak-anak dan bayi. Bagaimanapun juga, mereka digolongkan kedalam golongan hantu-hantu yang jahat. Gui Po memiliki tujuan tersendiri dibalik kehadirannya seperti penyihir-penyihir dalam cerita dongeng.

Heibai Wuchang
heibai wuchang

  Heibai Wuchang yang berarti " Kefanaan Hitam Putih " juga dikenal dengan Penjaga Kefanaan Hitam dan Putih. Seperti Niu Tou Ma Mian, mereka ditugaskan untuk membawa para ruh orang yang telah mati kembali ke Dunia Bawah. Penjaga Hitam dan Penjaga Putih ditugaskan membawa ruh-ruh baik dan jahat secara berurutan. Dalam beberapa kisah, mereka muncul selama Festival Hantu dan menghadiahkan orang-orang yang baik dengan kepingan-kepingan emas. Patung-patung mereka terdapat di beberapa Kuil China. Mereka disembah dan biasanya digambarkan dengan seringai yang jahat di wajah mereka dan lidah yang panjang keluar dari mulut mereka untuk menakuti dan mengusir ruh-ruh jahat.

Jian
jian

  Jian diartikan sebagai " Hantu " dari para hantu. Dalam sebuah cerita dalam buku Strange Stories from a Chinese Studio volume lima karya Pu Songling menyebutkan sebuah kalimat " seseorang akan menjadi hantu setelah kematian, dan hantu akan menjadi Jian setelah kematian. "

Jiang Shi
jiang shi

  Jiang Shi yang berarti " Mayat yang Kaku " juga dikenal dengan Vampir China walaupun mereka bertingkah lebih mirip Zombie ketimbang Vampir dalam budaya barat. Mereka adalah jasad yang dihidupkan kembali yang berjalan dengan melompat-lompat dan mereka membunuh makhluk hidup dan menhisap energi Yang mereka.

Niu Tou Ma Mian
niu tou ma mian

  Niu Tou Ma Mian yang berarti " Kepala Lembu Berwajah kuda " adalah penjaga dari Dunia Bawah. Mereka berkepala lembu dan kuda namun bertubuh manusia itulah kenapa mereka dinamai seperti itu. Seperti Heibai Wuchang, mereka ditugaskan untuk mengawal ruh orang yang telah mati menuju Dunia Bawah. Mereka biasanya digambarkan bersenjatakan garpu dan membawa rantai baja untuk mengikat ruh. Cerita Niu Tou Ma Mian berasal dari cerita Dinasti Song yang berjudul Transmission of The Lamp.

Nu Gui
nu gui

  Nu Gui yang berarti " Hantu Perempuan " adalah hantu perempuan pendendam dengan rambut yang panjang dan digambarkan selalu bergaun merah. Dalam dongeng, hantu ini adalah ruh dari perempuan yang mati karena bunuh diri dan memakai gaun merah saat kematiannya. Biasanya dia bunuh diri karena diperlakukan tidak adil semasa hidupnya seperti difitnah atau dijadikan budak seks dan saat dia telah mati, dia kembali untuk membalas dendam. Sebuah artikel majalah menceritakan suatu upacara pemakaman dimana anggota keluarga dari korban pembunuhan tersebut memakaikan jasadnya sebuah gaun merah dengan harapan agar ruhnya kembali dan membalaskan dendam kepada si pembunuhnya. Dalam dongeng-dongeng tradisonal, warna merah melambangkan amarah dan dendam dalam konteks cerita hantu. Dalam cerita lain, beberapa dongeng klasik menceritakan hantu perempuan cantik datang merayu laki-laki dan menghisap inti Yang atau terkadang membunuh mereka. Jenis hantu perempuan ini mirip dengan Succubus. Berbeda dengan lawan dari Nu Gui, Nan Gui yang berarti " Hantu Laki-Laki ", sangat jarang sekali digambarkan.

Shui Gui
shui gui

  Shui Gui yang berarti " hantu air " adalah ruh dari orang-orang yang mati tenggelam. Mereka mengendap-endap ditempat mereka mati dan menarik siapapun korbannya ke bawah air dan menenggelamkannya dengan tujuan untuk mengambil alih tubuh mereka. Proses ini dikenal dengan Ti Shen yang berarti " Mengganti Tubuh ". Ruh tersebut akan kembali ke dunia kehidupan dengan tubuh korbannya sementara jiwa si korban akan menempati tempat Shui Gui mencari tubuh manusia lain yang masih hidup untuk diambil alih.

Wu Tou Gui

wu tou gui

  Wu Tou Gui yang berarti " Hantu Tanpa Kepala " adalah hantu yang tidak memiliki kepala yang berkelana tanpa tujuan. Mereka adalah ruh dari orang-orang yang dibunuh dengan cara dipenggal dengan berbagai alasan, seperti eksekusi, kecelakaan, dan lain-lain. Dalam beberapa cerita, Wu Tou gui akan mendatangi seseorang pada malam hari dan menanyakan keberadaan kepalanya. Wu Tou Gui kadang juga digambarkan membawa kepalanya sendiri disisinya.

You Hun Ye Gui
you hun ye gui

  You Hun Ye Gui yang berarti " Ruh Pengembara dan hantu Liar " adalah ruh pengembara yang telah mati. Mereka mengembara di dunia kehidupan saat datangnya bulan dimana terdapat purnama ketujuh ( biasanya pada bulan Agustus dalam kalender Gregoria ) selama Festival Hantu. Ruh-ruh yang termasuk You Hun Ye Gui antara lain: hantu-hantu pendendam yang ingin membalas dendam terhadap siapapun yang berani melawan mereka; hantu-hantu kelaparan; hantu-hantu yang senang bermain yang mungkin membuat maslah selama Festival Hantu. Beberapa ruh ini tidak memiliki kerabat yang masih hidup, tidak memiliki tempat peristirahatan atau dikuburkan dengan sewajarnya, sementara yang lainnya adalah hantu-hantu tersesat yang tidak dapat kembali ke Dunia Bawah jadi mereka melanjutkan untuk berkelana di dunia kehidupan setelah bulan purnama ke tujuh. Di Taiwan, ada beberapa tempat suci atau kuil yang dibangun untuk mendoakan You Ying Gong, sebuah sebutan kolektif yang ditujukan untuk ruh-ruh yang tersesat dengan harapan ruh-ruh tersebut tidak mengganggu yang masih hidup. Ada beberapa kelompok yang digolongkan oleh para ahli dari beberapa universitas di Taiwan. Beberapa ruh ini dikelompokkan sebagai dewa di sebuah tempat bernama " Wang Ye " atau Kerajaan Tuhan. Secara idiom mereka disebut juga Gu Hun Ye Gui yang berarti " Hantu Liar dan Kesepian ". Ditujukan kepada ruh yang juga biasa digunakan untuk orang-orang yang tidak memiliki rumah dan mengembara tanpa tujuan.

Yuan Gui
yuan gui

  Yuan Gui yang berarti " Hantu yang Mengeluh " adalah ruh dari orang-orang yang mati dengan cara yang tidak adil. Cerita tentang hantu ini muncul di China saat awal Dinasti Zhou dan direkam dalam catatan klasik Zuo Zhuan. Tidak ada satupun dari hantu ini dapat beristirahat dengan tenang ataupun pergi ke Dunia Bawah untuk direinkarnasi. Mereka mengembara di dunia kehidupan sebagai ruh yang tertekan dan gelisah yang selalu berusaha mencari cara agar semua penyesalan dan kegelisahan mereka ditebus. Dalam beberapa cerita, hantu-hantu ini akan mendatangi orang yang masih hidup dan berusaha berkomunikasi dengan orang tersebut dengan tujuan untuk menuntun orang tersebut menemukan petunjuk-petunjuk atau kepingan-kepingan bukti yang akan menjelaskan jika mereka mati dengan cara yang tidak adil atau wajar. Orang tersebut akan membantu membersihkan nama mereka atau kalau tidak, orang tersebut akan memastikan jika keadilan telah diberikan kepada mereka.

Ying Ling
ying ling

  Ying Ling yang berarti " Ruh Bayi " merujuk pada ruh janin-janin yang telah mati. Cerita hantu ini diakui berasal dari Jepang. Sebuah pelayanan memorial untuk mereka dibangun di Taiwan. Seorang penulis menyebutnya dengan " Zui Gongzi " yang ditulis di thinkerstar pada tahun 2004 menyebutkan jika cerita Ying Ling adalah hanya sebuah cerita karangan fiktif.

Zhi Ren
zhi ren

  Zhi Ren yang berarti " Sesosok Kertas " adalah boneka yang terbuat dari kertas yang dibakar sebagai persembahan kepada yang telah mati yang akan menjadi p[elayan hantunya. Boneka-boneka ini dibuat sepasang - satu laki-laki dan satu perempuan - dan kadang disebut Jin Tong Nu Yu yang berarti anak laki-laki emas dan anak perempuan giok. Boneka-boneka ini sebenarnya bukanlah ruh yang terbentuk dengan sendirinya. Mereka dapat melakukan penawaran sebelum mereka menjadi pelayan kepada yang akan menjadi tuannya.

Zhong Yin Shen
zhong yin shen

  Zhong Yin Shen yang berarti " Tubuh Yin Pertengahan " merujuk pada ruh yang sedang berada dalam keadaan transisi antara kematiannya dan saat dia akan reinkarnasi. Seperti digambarkan dalam ajaran Buddha Mahayana, masa ini biasanya membutuhkan waktu empat puluh sembilan hari.

Dengarkan Dengan Audio

Friday, October 18, 2013

Brahma


brahma

 Brahma

 Brahma dalam mitologi Hindu adalah Dewa Pencipta dan satu dari Trimurti. Berdasarkan Brahma Purana, Brahma adalah ayah dari Manu, dan dari Manu-lah manusia diturunkan. Dalam Ramayana dan Mahabharata, dia sering dilambangkan sebagai datuk atau kakek dari semua manusia. Agar tidak tertukar, Brahma berbeda dengan kosmik spiritual tertinggi Hindu dalam filosofi Weda yang dikenal dengan Brahman yang tidak memiliki gender. Dalam Tradisi Hindu, pencipotaan Wedasis berasal dari Brahma. Istri Brahma bernama Saraswati.Saraswati yang juga dikenal dengan nama-nama seperti Savitri dan Gayatri, yang diambil dari berbagai cerita yang mewakilinya. Brahma seringkali disebut dengan Prajapati, Dewa Weda, suami dari Saraswati atau Dewi Vaac atau Dewi Perkataan, Brahma juga dikenal dengan Waagish yang berarti Raja Suara dan Perkataan.

  Dalam bahasa Sansekerta, bentuk kata awalan Brahman dibagi menjadi dua kata yang berbeda. Yang pertama adalah Brahma dalam bentuk netral yang secara abstrak merujuk pada bentuk tunggal Brahma. Berbeda dengan kata Brahma dalam bentuk maskulin yang digunakan sebagai kata tunjuk dan sebutan untuk dewa Brahma yang menjadi subjek di dalam setiap karya seni dan sastra yang terdapat cerita yang mencantumkannya di dalamnya.

  Menurut Purana, Brahma terlahir dari sebuah bunga teratai sedangkan dalam legenda lain menyebutkan jika Brahma terlahir di dalam air atau dari sebuah benih yang kemudian berubah menjadi telur emas. Dari telur emas tersebut, Brahma sang pencipta dilahirkan sebagai Hiranyagarbha. Sisa-sisa telur emas tersebut menjadi Brahman atau jagat raya. Karena menurut legenda Brahma terlahir di dalam air, maka Brahma disebut juga dengan Kanja yang berarti "Dia yang Terlahir di Dalam Air". Berawal dari cerita Sharsa Brahma yang sekarang konsep seluruh jagat raya, Brahma menciptakan Brahmand (Jagat raya) selama satu tahun Brahma.

  Saat awal proses penciptaan, Brahma menciptakan empat Kumara atau Caturana yang entah bagaimana mereka menolak permintaannya untuk mengabdikan diri kepada Dewa. Dia lalu menciptakan sepuluh anak dari pikirannya atau yang disebut Prajapati yang dipercaya menjadi ayah dari seluruh umat manusia. Namun sejak anak-anaknya lahir dari pikirannya, mereka lantas disebut Manas Putra atau anak-anak dari jiwa dan pikiran. Manusmrti dan Bhagavat Purana menyebut Brahma memiliki sepuluh anak laki-laki dan satu anak perempuan atau Shatrupa (satu-satunya yang memiliki seratus rupa) yang terlahir dari berbagai bagian tubuh, diantaranya Marichi, Atri, Angirasa, Pulaha, Pulasthya, Krathu, Vashistaj, Prachetasa, Bhrigu, dan Narada.

  Dalam kitab suci Weda dan Purana, Brahma disebutkan sebagai satu-satunya yang lebih sering mencampuri urusan dan hubungan para dewa ketimbang hubungan antar makhluk hidup, seperti saat Brahma menyerang Soma untuk mengambil kembali Tara kepada suaminya, Bhraspati. Disebutkan para keturunan dari tubuhnya antara lain Dharma dan Adharma, Krodha, Lobha, dan lainnya.

  Brahma digambarkan dengan pakaian berwarna merah dengan empat kepala, empat wajah dan empat lengan. Masing-masing kepala diceritakan membaca satu dari empat Weda. Brahma juga sering digambarkan memiliki janggut yang memutih (khususnya di wilayah sekitar Utara India) yang mengindikasikan keberadaan alamnya yang hampir abadi. Berbeda dari kebanyakan Dewa-Dewa hindu, Brahma tidak memegang senjata. Satu tangannya memegang tampuk, yang lainnya memegang buku, dan lainnya menggenggam tasbih yang digunakan untuk menjaga waktu dan jagat raya. Brahma juga sering digambarkan sedang memegang Weda.

  Banyak cerita lain Purana tentang kepentiangan Dewa Brahma yang berangsur berkurang. Para pengikut ajaran Hindu percaya jika manusia tidak akan mampu hidup tanpa berkat dari Brahma dan Saraswati yang tanpa mereka berdua manusia akan kehilangan kreativitas dan ilmu pengetahuan untuk memecahkan semua masalah dalam kehidupan. Ada sebuah cerita yang menyebutkan tentang kepala Brahma yang kelima. Kepala ini muncul saat Shatrupa terbang keluar dari tubuh Brahmamenuju angkasa. Kepala ini muncul di atas keempat kepala lainnya yang melambangkan nafsu dan ego. Shiva segera memenggal kepala tersebut dan mengembalikan jumlah kepala Brahma menjadi empat. Kepala kelima yang telah dipenggal, ditinggalkan bersama Shiva dan dinami Kapali.

  Empat wajah Brahma melambangkan keempat jumlah Weda. Empat tangan Brahma melambangkan keempat arah mata angin. Bagian belakang lengan kanannya melambangkan pikiran, bagian belakang lengan kirinya melambangkan kepintaran, bagian depan lengan kanannya melambangkan ego, dan bagian depan lengan kirinya melambangkan kepercayaan diri. Tasbih yag digenggamnya melambangkan unsur-unsur yang digunakan dalam proses penciptaan. Buku yang dipegangnya melambangkan ilmu pengetahuan.Wajah Brahma yang berwarna keemasan melambangkan keaktivfannya dalm proses penciptaan jagat raya. Seekor angsa melambangkan berkat dan penglihatan. Brahma menggunakan angsa sebagai kendaraannya atau Vahana. Mahkota Dewa Brahma melambangkan kekeuasaan teritingginya. Teratai melambangkan alam dan inti kehidupan dari semua hal dan makhluk di jagat raya. Janggut hitam atau keputihan Brahma melambangkan kebijaksanaandan proses penciptaan yang terus menerus.

Mendengarkan Dengan Audio

Rangda


mitologi rangda

Rangda

  Rangda adalah ratu iblis dan ibu dari para Leyak, berdasarkan mitologi tradisional masyarakat Bali. Dengan bentuk yang sangat menakutkan, Rangda yang senang memakan anak-anak kecil memimpin pasukan para penyihir jahat melawan pemimpin dari kekuatan baik, Barong. Peperangan antara Barong dan Rangda di sebutkan dalam tari Barong yang menggambarkan peperangan abadi antara kebaikan dan kejahatan. Rangda adalah istilah dalam bahasa Jawa yang berarti Janda.

  Rangda adalah sosok yang penting dalam kebudayaan masyarakat Bali dan aksinya yang di gambarkan berkelahi dengan Barong atau Airlangga adalah atraksi yang populer bagi para pendatang.Seperti dalam tradisi, Rangda di gambarkan sebagai perempuan tua yang hampir tanpa busana, berambut panjang, payudara yang terjumbai dan berkuku runcing yang sangat tajam. Wajah nya biasanya di gambarkan sangat menakutkan dengan mata bulat yang menonjol, bertaring, dan lidah panjang yang menjulur.

  Rangda mungkin berhubungan dekat dengan Durga. Rangda juga sering di samakan dengan ibu dewi perang dalam ajaran hindu dan Kali, dewi penghancur, perubahan dan perlindungan dalam ajaran Hindu.

  Sementara Rangda di gambarkan dengan sangat menakutkan dan di sebutkan jika Rangda adalah bentuk personifikasi dari hal-hal jahat, walaupun demikian Rangda di anggap sebagai pelindung di beberapa bagian bali. Lebih seperti Kali yang di gambarkan sebagai dewi yang dermawan di negara india khususnya Bengal bagian barat, di Assam dan Kerala. Warna-warna yang di kaitkan denganya - putih, hitam dan merah - di identikan dengan warna yang berhubungan dengan Kali. penggambaran nyha mirip dengan Kali dan Chamunda, yang secara dekat berhubungan. Rangda juga di kaitkan denga legenda Calon Arang dan legenda tentang cerainya dan terusirnya ratu dari kerajaan Jawa, Mahendradatta.

  Rangda di kenal sebagai ratu iblis dan penjelmaan dari Calon Arang, penyihir legendaris yang mendatangkan malapetaka di era Jawa kuno selama masa pemerintahan Airlangga di akhir abad ke 10. Di sebutkan jika Calon Arang adalah seorang janda yang memiliki ilmu hitam yang senang merusak hasil panen para petani dan mendatangkan banyak penyakit. Dia memiliki seorang anak perempuan bernama Ratna Manggali yang di kenal sangat cantik namun belum memiliki suami karena orang-orang takut kepada Calon Arang. Karena kesulitan yang di hadapi anak perempuanya, Calon Arang marah dan berencana membalas dendam dengan menculik anak perempuan. Dia membawa perempuan tersebut ke sebuah kuil untuk di korbankan  kepada dewi Durga. Esok harinya sebuah banjir besar datang dan melahap desa sehingga banyak penduduk desa mati dan penyakit pun mulai menyebar. Raja Airlangga yang mendengar kejadian ini lalu meminta pendapat dari penasihat nya, empu Bharada, untuk membereskan masalah ini. empu Bharada lalu megirimkan murid nya, empu Bahula untuk menikahi Ratna. Mereka berdua menikah dengan perayaan besar-besaran selama tujuh hari tujuh malam sehingga membuat keadaan kembali menjadi normal. Disisi lain, Calon Arang memiliki buku yang berisi mantra-mantra sihir. suatu hari, buku ini di temukan oleh empu Bahula, yang kemudian di berikan kepada empu Bharada. dengan cepat Calon Arang tau jika buku itu telah di curi, dia marah dan menantang empu Bharada untuk bertarung. tanpa bantuan dari dewi Durga, Calon Arang akhirnya kalah. Sejak dia di kalahkan, desa menjadi aman dari ancaman ilmu sihir hitam Calon Arang.

  Penafsiran lain menyebutkan kalau Rangda sebenarnya berasal dari abad ke 11, dari cerita Ratu Mahendradatta atau Gunapriyadharmapatni, saudari dari putri kerajaan jawa, Dharmawangsa dari jawa timur teptnya dari dinasti Isyana di akhir periode kerajaan Medang. dia adalah ratu sekaligus istri dari raja Bali Udayana dan ibu dari Airlangga. Mahendradatta juga di kenal dengan pengabdianya kepada dewi Durga di Bali. Cerita berjalan saat Mahendradatta ibu dari Airlangga di hukum dan di usir oleh sang raja Udayana setelah diduga mempelajari sihir dan ilmu hitam. setelah dia menjadi janda di sakiti dan di permalukan, dia berusaha untuk membalas dendam kepada suaminya dan seluruh kerajaan. dia memanggil semua ruh jahat dari dalam hutan yaitu Para Leyak dan iblis-iblis yang menyebarkan penyakit pes dan kematian dalam kerajaan dia melanjutkan membalas dendam dengan membunuh separuh dari kerajaan, yang kemudian menjadi miliknya dan anak dari Dharmodayana, Airlangga.

Dengarkan Dengan Audio

Sunday, October 13, 2013

Dokkaebi

 
mitologi dokkaebi




   Dokkaebi adalah kata umum untuk jenis makhluk spiritual dalam dongeng Korea. Dokkaebi adalah makhluk mitologi yang muncul dalam banyak cerita dongeng Korea. Walaupun biasanya menakutkan, Dokkaebi juga dilambangkan dengan makhluk yang jenaka. Dokkaebi diceritakan sangat jahil dan senang bermain curang pada orang-orang jahat, namun Dokkaebi juga senang memberikan hadiah kepada orang-orang yang baik semasa hidupnya. Dokkaebi berbeda dengan hantu, mereka tidak menampakkan diri dengan berwujud orang yang telah mati, namun Dokkaebi biasanya menampakkan diri dengan bentuk yang beragam. Walaupun begitu, masyarakat Korea secara umum telah menggolongkan jenis-jenis Dokkaebi sesuai bentuk rupanya.

  Diantaranya:
    - Cham Dokkaebi, Dokkaebi yang senang mengganggu dan sangat jahil. Biasanya muncul dengan rupa seperti manusia besar berbulu lebat.
    - Kimseobang Dokkaebi, Dokkaebi yang sangat bodoh. Biasanya muncul dengan rupa seperti seorang petani.
    - Not Dokkaebi, Dokkaebi yang muncul pada siang hari. Biasanya Not Dokkaebi memberikan hadiah sebuah Gamtu kepada yang telah baik padanya.
    - Gae Dokkaebi, Dokkaebi yang sangat jahat dan sangat pemarah.
    - Go Dokkaebi, Dokkaebi yang sangat pandai berkelahi dan menggunakan senjata, biasanya busur panah.
    - Gwisu Dokkaebi, Dokkaebi yang muncul dengan rupa yang sangat mengerikan, pemimpin dari para Dokkaebi. Beberapa Gwisu Dokkaebi digambarkan memiliki tanduk dikepalanya.
    - Gaksi Dokkaebi atau Conggak Dokkaebi, Dokkaebi yang sangat pandai menarik dan merayu manusia.
    - Owinun Dokkaebi, Dokkaebi yang bermata satu. Owinun Dokkaebi dikenal sangat rakus.
    - Owidari Dokkaebi, Dokkaebi berkaki satu yang senang bermain Ssireums ( gulat tradisional Korea ).

  Beragamnya versi mitologi Dokkaebi, maka beragam juga cerita dan benda-benda yang biasanya dikaitkan dengan Dokkaebi. Dalam beberapa cerita, Dokkaebi disebutkan tidaklah berbahaya namun juga terkadang sangat jahil. Biasanya para Dokkaebi menjahili manusia dengan menantang pejalan kaki yang sedang berjalan sendiri untuk bermain Ssireum, jika mereka menang melawan Dokkaebi, mereka diizinkan untuk melanjutkan perjalanannya. Kebanyakan Dokkaebi membawa sejenis gada atau palu kayu yang bernama Bangmangi. Bangmangi memiliki kemampuan sihir yang mampu memunculkan apapun yang Dokkaebi mau, yang sebenarnya Bangmangi berfungsi untuk mencuri dari tempat lain karena Bangmangi hanya dapat memunculkan benda-benda yang ada dan tidak membuat benda-benda keluar dari udara.

  Dokkaebi senang bermain, khususnya Ssireum dan mereka pandai melakukannya. Diceritakan, untuk mengalahkan Dokkaebi dalam permainan Ssireum adalah dengan mendorongnya dari sisi kanan, karena disebutkan, sisi kiri Dokkaebi adalah yang yang terkuat dan begitu pula sebaliknya. Dokkaebi juga memiliki sebuah penutup kepala yang dikenal dengan Gamtu yang memiliki kekuatan tembus pandang yang diberikan kepada siapapun yang memakainya.

***

Dongeng-dongeng Dokkaebi

  Di sebuah bukit di desa kecil, tinggallah seorang penebang kayu tua yang memiliki sebuah kutil yang tumbuh di pipinya. Setiap hari dia berkeliling bukit dan pegunungan disekitar desa untuk mengumpulkan kayu, dan saat menjelang malam ia membawanya ke desa untuk dijual ke pasar. Suatu hari dia memutuskan mengambil jalan lain untuk mencari pohon-pohon yang baru. Namun, tak lama kemudian, ia sadar jika dia telah tersesat dan mulai merasa gelisah seiring matahari yang mulai tenggelam. Untuk menghilangkan kegelisahan dan kegugupannya, dia mulai bernyanyi. Selama ia bernyanyi, seekor Dokkaebi mulai menari dibelakangnya. Si penebang kayu mulai panik dan ketakutan dengan datangnya Dokkaebi. Namun karena tidak mau membuat Dokkaebi marah, penebang kayu itu melanjutkan nyanyiannya. Setelah si penebang kayu bernyanyi beberapa lagu, Dokkaebi bertanya padanya " Nanyian yang sangat indah yang tidak pernah aku dengar dari makhluk lainnya! Beritahu aku, bagaimana kamu bisa memiliki suara yang sangat luar biasa seperti itu? ". Si penebang kayu menjawab " Jangan beritahu yang lain jika kutil yang ku miliki inilah rahasianya. Tidak ada yang dapat bernyanyi semerdu suaraku, jika aku masih memiliki ini ". Dokkaebi kagum pada jawaban penebang kayu itu. " Oh, kamu harus menjualnya padaku! " rengek Dokkaebi. " Apapun yang kau mau, akan aku berikan, asal kau mau menukarnya dengan kutil milikmu itu! ". Dengan cepat si penebang kayu meminta sekantung emas sebesar yang ia mampu bawa. Dokkaebi pun menghilang dengan cepat dan kembali dengan membawa sekarung emas. Dengan sentuhan Bangmangi, Dokkaebi mengambil kutil si penebang kayu. Dokkaebi lalu berlari ke tengah hutan, bernyanyi dengan riang, meskipun suaranya sangatlah tidak merdu. Si penebang kayu lalu pulang meuruni hutan menuju desa dengan membawa sekarung emas. Dengan cepat penduduk desa berkumpul di rumah si penebang kayu. Cerita si penebang kayu yang bertemu Dokkaebi pun menyebar dengan cepat. Terdengar hingga ke telinga seorang saudagar yang tinggal di tengah kota yang juga memiliki sebuah kutil di dahinya. Setelah mendengarkan cerita si penebang kayu, saudagar kaya sangat senang dan bersyukur. Dia segera berencana untuk menukar kutil miliknya dengan emas dan hadiah yang sangat berharga lainnya esok harinya. Saat matahari terbenam dari balik bukit, saudagar itu segera berangkat menuju gunung sambil bernyanyi sekuat-kuatnya. Beberapa jam bernyanyi membuat suaranya serak, namun ia tetap melanjutkan bernyanyi, hingga akhirnya ia kelelahan. Ia tetep berusaha bernyanyi, dan akhirnya Dokkaebi muncul dihadapan si saudagar. " Permisi, kenapa kamu bernyanyi seperti itu? " . Sekejap perasaan lelahnya menghilang. Si saudagar pun menjawab dengan sombong " Memang kenapa? Ini berasal dari kutil milikku ". Dokkaebi menatapnya heran lalu melanjutkan bicaranya " Kalau begitu, kamu boleh memiliki kutilku, karena ku rasa kutil milikmu tak bekerja dengan baik ". Dan sebelum si saudagar melanjutkan kata-katanya, Dokkaebi lebih dulu memukulkan Bangmangi-nya dan memindahkan kutil yang sebelumnya ada di dahi Dokkaebi ke dahi saudagar itu lalu menghilang. Si saudagar menangis kencang dan mencari-cari Dokkaebi namun ia tak bisa menemukannya. Dan akhirnya saudagar itupun pulang dengan dua buah kutil di dahinya.

  Suatu hari diceritakan, seorang lelaki tua miskin hidup dan tinggal jauh di tengah hutan. Satu malam, ia mendengar pintu gubuknya diketuk dan saat ia buka, ternyata Dokkaebi sedang berdiri di depan pintunya. Lelaki tua itu tentu saja terkejut sekaligus takut, namun tidak melupakan sopan santunnya, lelaki tua itu mengundang Dokkaebi untuk masuk untuk sekedar minum. Keduanya berteman dengan cepat, dan setiap malam Dokkaebi mengunjungi gubuk lelaki tua itu dan berbincang-bincang hingga menjelang pagi. Semua ini berlangsung selama berminggu-minggu hingga suatu hari, saat lelaki tua itu tidak sengaja melihat bayangannya di permukaan danau. Ia melihat wajahnya yang mirip dengan Dokkaebi. Ketakutan berubah menjadi Dokkaebi, lelaki tua itu segera membuat sebuah rencana. Malam berikutnya saat ia dan Dokkaebi sedang minum-minum, lelaki tua memulai pembicaraan. " Aku bertaruh, kamu takkan dapat menebak apa yang sangat aku takutkan! " Dokkaebi lalu menebak semua makhluk dan benda-benda yang ia tahu, namun lelaki tua itu membantah semuanya. " Ketakutan terbesarku adalah sesuatu yang sangat membuatku menderita, Emas. Aku bisa sangat ketakutan dan panik dan aku bisa manarik rambutku jika menciumnya. Itulah mengapa aku tidak berambut dan tinggal ditempat yang jauh dari kota. " Dokkaebi lalu menambahkan, " Hai teman, tidak adik bagiku untuk tahu apa yang sangat kau takutkan sedangkan kau tidak tahu apa yang aku takutkan. Bagiku, yang paling membuatku takut adalah darah. Darah segar." Esok harinya, lelaki tua itu membunuh seekor rusa dan menyebarkan darahnya di pintu dan jendela gubuknya. Saat malam datang, Dokkaebi yang mengunjunginya mendadak terkejut dan marah dengan apa yang dilakukan lelaki tua itu. " Dasar manusia tidak tahu diuntung! " Dokkaebi menjerit sambil menangis dari luar gubuknya. " Kau sebarkan darah ini untuk mencelakai dan mengusirku pergi? Tapi kau lupa jika aku tahu apa yang sangat kau takutkan! " Esok paginya lelaki tua itu menemukan halaman gubuknya dipenuhi bongkahan-bongkahan emas yang belum pernah lihat sebelumnya. Dia segera membawa emas-emasnya tersebut ke kota lalu segera membelanjakan keperluan hidupnya yang tak pernah cukup untuk ia habiskan hingga sisa hidupnya.

 

Monday, September 23, 2013

Bahamut

Bahamut Mythians







  Bahamut atau Bahamoot adalah ikan besar yang menunjang bumi dalam mitologi Arab. Dari beberapa sumber, Bahamut digambarkan memiliki kepala seperti kuda nil atau gajah. Dalam buku Jorge Luis Borges yang berjudul Book of Imaginary Being, Bahamut  digambarkan sangat besar hingga manusia tidak mampu melihatnya. “(semua) Lautan yang ada di dunia, ditempatkan pada sebuah hidung seekor ikan, akan seperti biji mustard diatas padang gurun.”

  Edward William Lane mengutip dua kosmologis akun dari Ibn al-Wardi yang menceritakan Bahamut. Satu akun menggambarkan Bahamut sebagai seekor ikan yang mengapung di air yang didukung kegelapan. Diatas ikan ada seekor banteng bernama Kujata, diatas banteng ada sebuah gunung ruby, diatas gunung ruby ada malaikat; malaikat yang membawa dan menunjang tujuh bumi. Dibawah ikan terdapat lapisan angin, kegelapan, dan kabut. Sumber lain menyebutkan Bahamut adalah sebuah lapisan dalam konsep similar dari kosmorafi Arab.

  Menurut Borges, Bahamut adalah ikan raksasa yang Jesus lihat di malam ke 496 dalam seribu satu malam. Bahamut dalam cerita ini adalah seekor ikan yang besar, berenang di lautan yang luas. Dia membawa seekor banteng diatas kepalanya; seekor banteng memikul sebuah batu, dan diatas batu adalah malaikat yang membawa tujuh lapis bumi. Dibawah Bahamut adalah kegelapan, api, dimana bagian bawanya terdapat seekor ular besar bernama Falak.

  Pada saat melihat Bahamut, Jesus (Isa) kebingungan. Dalam pandangannya ia terjatuh, dan saat ia kembali kepada tubuhnya, Allah berkata “Oh, Isa, Apakah kamu melihat seekor ikan yang ukurannya panjang dan besar?” Ia menjawab,”Dengan kehormatan dan keagungan-Mu, Tuhan, aku tidak melihat ikan; tapi disana seekor banteng besar melewatiku yang memiliki panjang tubuh selama tiga hari perjalanan, dan aku tidak tahu banteng macam apa ini” Allah menjawab “Oh Isa, ini yang kau lihat selama tiga hari perjalanan melewati mu, adalah kepala dari ikan; dan sekarang kamu tahu setiap hari aku menciptakan empat puluh ikan seperti ini.”

  Borges mengutip cerita tentang Bahamut sebagai bagian dari lapisan kosmologi yang menjadi ilustrasi dari bukti kosmologi tentang eksistensi Tuhan, dimana ia menilai dampak ketidakmungkinan dari infinite prior causes. Dia juga menggambarkan secara paralel antara Bahamut dan seekor ikan dari mitologi Jepang bernama Jinshin-Uwo.

Dengarkan Dengan Audio